Home »
» Sekilas Pandang Mengenal Kebudayaan Bajawa
Sekilas Pandang Mengenal Kebudayaan Bajawa
Kamis, 04 September 2014 | 0 komentar
Etnis Bajawa atau Bhajawa adalah satu dari dua etnis yang mendiami Kabupaten Ngada di Pulau Flores bagian tengah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Etnis lainnya adalah Riung. Kedua etnis ini memiliki latar belakang sosial budaya yang berbeda. Adat istiadat, kebiasaan dan bahasa sangat berlainan.
Pandangan tentang Alam Semesta (kosmologi)
Masyarakat Bajawa memandang dunia sebagai ’Ota Ola’ tempat manusia hidup bersama yang dilukiskan dengan bahasa adat: ’Lobo papa tozo, tara papa dhaga’ ( saling ada ketergantungan). Dalam dunia ini ada kekuatan baik disebut Dewa Zeta dan ada kekuatan jahat disebut Nitu Zale. Dewa Zeta sebagai kekuatan sumber kemurahan, sumber kebaikan (Mori Ga’e). Karena itu perlu menjaga harmoni antara unsur-unsur dalam alam semesta.
Dalam kalangan masyarakat etnis Bhajawa hingga kini masih hidup sejumlah upacara tradisional yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia sejak lahir sampai meninggal:
Upacara Yang Berkaitan Dengan Kelahiran
Bagi masyarakat Bajawa tujuan perkawinan adalah melahirkan anak-anak. Ini diungkapkan dengan bahasa adat (Pata Dela) ’Bo moe tewu taba, loka moe muku wuka’ (bertunas bagaikan tanaman tebu, menghasilkan buah bagaikan tanaman pisang).
Kelahiran dalam pandangan masyarakat Bajawa harus diawali dengan perkawinan adat yang melegalkan sanggama antara pria dan wanita, dalam bahasa adat disebut ’beke sese papa pe, pa’a bhara papa dhaga’ (dada saling berhimpitan, paha saling bertindisan) untuk melanjutkan keturunan. Keturunan sangatlah penting guna meneruskan nama marga dan penguasaan harta warisan leluhur secara turun-temurun.
Setiap perempuan yang hamil (ne’e weki) harus ada suami atau ada laki-laki yang menghamili. Dalam bahasa adat dilukiskan dengan ungkapan ’Wae benu toke, uta benu bere, ne’e go mori’ (air penuh bambu sayur penuh keranjang pasti ada yang memasukkan) atau ’Sa a, keka ea, nee go mori (burung gagak bersuara, burung kakatua berkicau, pasti ada penyebabnya).
Kelahiran anak, entah laki-laki atau perempuan, bagi masyarakat Ngada adalah berkah dari leluhur. Karena itu kelahiran anak selalu disyukuri dengan upacara adat dalam berbagai tahapan ritus:
*Geka Naja: upacara yang dilakukan sesaat setelah anak lahir yang ditandai dengan pemotongan tali pusar (poro puse) dan pemberi nama (tame ngaza). Untuk pemberian nama, biasanya semua daftar nama leluhur disebutkan di depan bayi tersebut sampai sang bayi bersin. Ketika sesudah sebuah nama disebut dan disusul dengan bersinan bayi, maka nama tersebut akan menjadi namanya karena bersin bagi orang Bajawa berarti tanda kesepakatan dari bayi. Pemberian nama melalui cara ini penting dilakukan. Jika tidak, maka anak tersebut tidak akan bertumbuh dengan normal dan sehat. Di sini, kecocokan antara nama dan orang amat menentukan masa depannya.
*Tere Azi: masyarakat Bajawa memandang ari-ari sebagai kembaran si bayi sehingga harus diperlakukan secara baik. Ari-ari tidak dikuburkan tetapi diletakkan pada suatu tempat yang tinggi ( di atas pohon). Awalnya diletakkan di dasar rumah pokok.
*Lawi Azi, Lawi Ana atau Ta’u: Upacara bertujuan untuk mengesahkan kehadiran anak dalam keluarga besar dan mensyukuri kelahiran anak yang ditandai dengan penyembelihan babi untuk memberi makan kepada leluhur. Biasanya rambut anak dicukur disebut Koi Ulu.
Upacara Pradewasa (Remaja)
Bagi masyarakat Bajawa, seseorang dinyatakan mulai dewasa apabila ia sudah mengalami datang bulan (ngodho wula). Sejumlah upacara dilakukan khusus untuk wanita yakni:
*Lege Mote (konde rambut). Khusus untuk anak perempuan rambut tidak boleh dicukur lagi dan dibiarkan panjang supaya bisa dikonde.
*Peti Kodo dan Sipo Sapu (memberi pakaian). Peti kodo artinya memberi pakaian kepada anak perempuan sedangkan sipo sapu memberi pakaian pada anak laki-laki. Mereka yang beranjak remaja tidak boleh telanjang lagi.
*Kiki Ngi’i (potong gigi): bertujuan untuk mendewasakan seorang gadis sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih lanjut.
Upacara Dewasa
Bagi masyarakat Bajawa, kedewasaan ditandai dengan perkawinan. Untuk sampai pada jenjang perkawinan, ada beberapa tahap yang dilewati:
Beti tei tewe da moni neni. Tahap perkenalan antara pria dan wanita biasanya pada saat pesta adat Reba(pesta syukur panen tahunan).
Beku mebhu tana tigi. Pihak laki-laki mengadaptasi diri dengan gadis dan keluarga gadis, tetapi tetap tidur terpisah. Sang pria tidur bersama saudara laki-laki dan ayah dari calon istrinya. Sehari-hari ia harus terlibat penuh dalam ritme dan aktivitas hidup seluruh keluarga besar calon istrinya. Di sinilah, sang pria diberi kesempatan untuk mengenal lebih dekat keluarga gadis pujaannya sekaligus akan dinilai oleh seluruh anggota keluarga besar gadis pujaannya: apakah seorang yang rajin, jujur, setia, atakah sebaliknya. Singkatnya, menghindari kesan membeli kucing dalam karung. Jika pria merasa Oke dengan pilihannya, ia dapat memutuskan untuk mengajak keluarganya meminang sang gadis. Jika tidak cocok, dia berhak menolak atau ditolak oleh pihak keluarga wanita.
Bere tere oka pale: keluarga pihak laki-laki datang meminang anak gadis. Sang gadis diminta secara baik-baik oleh pihak keluarga pria. Pada kesempatan inilah kedua belah pihak dapat mendapatkan kepastian mengenai kelanjutan hubungan mereka. Rejo kaju…
Idi Nio Manu: Keluarga laki-laki beriringan menuju rumah calon besan membawa sejumlah barang sebagai prasyarat untuk pertunanganan adat.
Zeza/ Sui tutu maki Rene. Zeza merupakan tahapan puncak dalam mengesahkan pasangan wanita dan laki-laki untuk hidup berdampingan sebagai suami dan istri. Dalam bahasa adat disebut ”lani seli’e, te’e setoko’ (tidur beralaskan satu tikar dan satu bantal). Pada kesempatan ini kedua mempelai, secara adat sudah resmi dan sah menjadi suami dan istri. Akan tetapi, mereka belum diperbolehkan tidur bersama dan melakukan hubungan layaknya suami dan istri karena secara agama Katolik, perkawinan mereka belum sah. Karena itu, setelah tahap ini biasanya dilanjutkan dengan kursus persiapan perkawinan (KPP) sebagai syarat untuk pernikahan secara Katolik. Apabila tahap ini sudah dilewati, maka kedua mempelai akan mengikrarkan janji setia di hadapan Allah di gereja. Dengan demikian, apa yang telah diikat oleh adat, semakin diperkuat lagi melalui ikatan taktercaikan oleh agama. Setelah pernikahan agama dilangsungkan barulah kedua mempelai menjadi suami dan istri yang sah dan diperkenankan untuk tidur bersama.
Upacara Kematian
Masyarakat Bajawa memandang kematian sebagai ’Dewa da Enga atau Nitu da Niu’. Dewa adalah kekuatan di atas yang baik (Dewa Zeta) yang memberi kehidupan dan kematian. Nitu adalah kekuatan di bawah yang jahat (Nitu zale) yang bisa mencabut nyawa manusia secara paksa. Karena itu di kalangan masyarakat Bajawa ada dua jenis kematian:
Mata Ade: Mati yang wajar karena penyakit medis. Upacara penguburan melalui tahap: Roko (memandikan dan memberi pakaian), Basa Peti (membuat peti mati), koe gemo (menggali kubur), gai boko(melepaspergikan jenasah), pa’i (menghibur keluarga selama tiga malam) dan Ngeku (kenduri) yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban berupa babi, kuda atau kerbau.
Mata Golo. Mati yang tidak wajar akibat kecelakaan, bunuh diri atau dibunuh. Biasanya jenasah mereka tidak diperkenankan dibawa masuk ke delam rumah. Upacara penguburan melalui proses: Pai api (menjaga mayat halaman rumah), tau tibo ( upacara mencari penyebab kematian), keo rado (upacara pembersihan),tane (menguburkan mayat) dan e lau kora (membuang seluruh peralatan yang dipakai ke arah matahari terbenam). Upacara ini biasanya terkesan menyeramkan, karena diyakini bahwa orang yang kematiannya tidak wajar, pasti di masa lalu dari leluhurnya pernah mengalami hal yang serupa atau melakukan tindakan yang merupakan aib (misalnya:incest) yang tertutup. Karena itu, harus dicari sumber penyebabnya dengan acara pa’i tibo dan disembuhkan akar masalahnya melalui upacara rekonsiliasi dengan masa lalu. Jika upacara tidak dilakukan maka bala yang sama akan terus menghantui ank cucu sampai tujuh turunan berikutnya.
Related Games
If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar